Selasa, 30 September 2014

Makalah Manajemen Sekolah

BAB I
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang

Dewasa ini boleh dikatakan bahwa masyarakat semakin merindukan keberadaan sekolah yang benar-benar memiliki kinerja tinggi, mampu mengembangkan kemampuan anak berprestasi tinggi dan berkepribadian baik, di dalamnya para guru dan pegawai bekerja dengan senang hati dan memiliki kepuasan kerja.

Sekolah merupakan suatu institusi yang di dalamnya terdapat komponen guru, siswa, dan staf administrasi yang masing-masing mempunyai tugas tertentu dalam melancarkan program. Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah dituntut menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu, keterampilan, sikap dan mental, serta kepribadian lainnya sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan keterampilannya.
Sekolah sebagai institusi tidaklah berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan nilai, budaya, dan kebiasaan yang hadir di masyarakat itu. Sekolah merupakan ujung tombak dari proses modernisasi (agent of change) yang diupayakan melalui kebijakan pemerintah. Produk dari sebuah sekolah harus berupa lulusan yang memiliki kompetensi unggul agar mampu menghadapi kompetisi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau “di pasar” tenaga kerja. Sekolah efektif dapat dibentuk melalui manajemen kepemimpinan visioner (visioner leadership) karena kepemimpinan ini berfokus pada masa depan. Hal tersebut merupakan suatu kondisi yang penting untuk terbentuknya iklim sekolah yang kondusif sehingga terwujud budaya sekolah yang mampu menghadapi berbagai tantangan.

1.2              Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud sekolah sebagai suatu sistem?
2.      Apa pengertian dari sekolah yang efektif?
3.      Bagaimana konsep sekolah efektif?
4.      Bagaimana ciri-ciri dan karakteristik sekolah yang efektif?
5.      Bagaimana kepemimpinan sekolah yang efektif?

1.3              Tujuan

1.      Menjelaskan sekolah sebagai sebuah sistem
2.      Menjelaskan pengertian sekolah efektif
3.      Menjelaskan bagaimana konsep sekolah efektif
4.      Menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik sekolah efektif
5.      Menjelaskan kepemimpinan sekolah efektif
















BAB II
PEMBAHASAN


2.1       Sekolah sebagai Suatu Sistem

Sebagai sebuah sistem, sekolah memiliki komponen inti yang terdiri dari input, proses, dan output. Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena merupakan satu kesatuan utuh yang saling terkait, terikat, mempengaruhi, membutuhkan dan menentukan.

a.      Input
Input sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input sekolah antara lain manusia (man), uang (money), material/bahan-bahan (materials), metode-metode (methods) dan mesin-mesin (machine).

Manusia yang dibutuhkan sebagai masukan bagi proses pendidikan adalah siswa sebagai bahan utama atau bahan mentah (raw input). Untuk menghasilkan manusia seutuhnya, diperlukan input manusia yang memiliki potensi untuk dididik, dilatih, dibimbing, dan dikembangkan menjadi manusia seutuhnya. Input disini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu input sumber daya dan input manajemen atau kepemimpinan. Input sumber daya meliputi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Sumber daya manusia sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya. Sedangkan sumber daya lainnya meliputi uang, peralatan, perlengkapan, bahan, bangunan, dsb. Input manajemen (Hadjisarosa, 1997 dalam Komariyah dan Triatna, 2004:3) adalah seperangkat tugas, rencana, program, ketentuan-ketentuan untuk menjalankan tugas, pengendalian, dan kesan positif yang ditanamkan kepala sekolah kepada warga sekolah.

Uang (money) merupakan masukan yang melancarkan pemrosesan raw input. Kedudukan uang dalam input pendidikan sangat penting untuk membiayai program yang telah ditetapkan. Bahan-bahan (materials) adalah bahan fisik yang diperlukan untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran di sekolah guna membentuk siswa seutuhnya. Misalnya, sarana dan prasarana, alat-alat pendidikan/media, dan sumber pendidikan. Metode (methods) yaitu metode pembelajaran atau cara-cara, teknik, dan strategi yang dikembangkan sekolah dalam melaksanakan proses pendidikan. Mesin-mesin (machine) adalah seperangkat yang mendukung terjadinya proses pembelajaran, dapat berupa teknologi komputer, radio, televisi, atau media-media yang menggunakan teknologi.

b.      Proses
Menurut Komariyah dan Triatna, (2004: 5) proses penyelenggaraan sekolah adalah kiat manajemen sekolah dalam mengelola masukan-masukan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan (output sekolah). Sedangkan Slamet (2003: 3) menyatakan bahwa proses adalah berubahnya “sesuatu” menjadi “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang berpengaruh terhadap proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output.

c.       Output
Output dari aktifitas sekolah adalah segala sesuatu yang kita pelajari di sekolah, yaitu seberapa banyak yang dipelajari dan seberapa baik kita mempelajarinya. Output sekolah yaitu berupa kelulusan siswa. Siswa yang lulus dengan sangat baik dan siswa yang lulus dengan biasa-biasa saja. Output sekolah berfokus pada siswa, tetapi siswa yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan.






2.2       Pengertian Sekolah Efektif
           
Keberhasilan sekolah merupakan ukuran bersifat mikro yang didasarkan pada tujuan dan sasaran pendidikan pada tingkat sekolah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional serta sejauh mana tujuan itu dapat dicapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya pendidikan yang berlangsung di sekolah.
Berdasarkan sudut pandang keberhasilan sekolah tersebut, kemudian dikenal sekolah efektif dan efisien yang mengacu pada sejauh mana sekolah dapat mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yag telah ditetapkan. Dengan kata lain, sekolah disebut efektif jika sekolah tersebut dapat mencapai apa yang telah direncanakan. Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai. Sehingga suatu sekolah akan disebut efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah, sebaliknya sekolah dikatakan tidak efektif bila hubungan tersebut rendah (Getzel, 1969).
Sekolah efektif adalah sekolah yang dapat mencapai target yang telah ditetapkannya sendiri. Sekolah unggul dan efektif adalah sekolah yang dapat mencapai target dengan penetapan target yang tinggi.
Pengertian sekolah efektif menurut para ahli:
1.      Peter Mortimore (1996): sekolah efektif dapat diartikan sebagai “A high performing school, through its well-established system promotes the highest academic and other achievements for the maximum number of students regardless of its socio-economic background of the families”.
2.      Taylor (1990): mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang mengorgansiasikan dan memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk menjamin semua siswa (tanpa memandang ras, jenis kelamin maupun status sosial ekonomi) bisa mempelajari materi kurikulum yang esensial di sekolah.
3.      Cheng (1996): mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang memiliki kemampuan dalam menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, fungsi sosial kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya maupun fungsi pendidikan. Fungsi ekonomis sekolah adalah memberi bekal kepada siswa agar dapat melakukan aktivitas ekonomi sehingga dapat hidup sejahtera. Fungsi sosial kemanusiaan adalah sekolah sebagai media bagi siswa untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat. Fungsi politis sekolah adalah sebagai wahana untuk memper­oleh pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warganegara. Fungsi budaya sekolah adalah media untuk melakukan transmisi dan transformasi budaya. Adapun fungsi pendidikan adalah sekolah sebagai wahana untuk proses pendewasaan dan pembentukan kepribadian siswa.

Efektifitas sekolah menunjukkan adanya proses perekayasaan berbagai sumber dan metode yang diarahkan pada terjadinya pembelajaran di sekolah secara optimal. Efektifitas sekolah merujuk pada pemberdayaan semua komponen sekolah sebagai organisasi tempat belajar berdasarkan tugas pokok dan fungsinya masing-masing dalam struktur program dengan tujuan agar siswa belajar dan mencapai hasil yang telah ditetapkan yaitu memiliki kompetensi.
Pada sekolah efektif seluruh siswa tidak hanya yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar tetapi juga yang memiliki kemampuan intelektualitas yang biasa pun dapat mengembangkan dirinya sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika rnereka baru memasuki sekolah.
Simpulan dari sekolah efektif yang dapat ditarik dari penjelasan-penjelasan  di  atas adalah  sekolah yang  mampu  mengoptimalkan semua masukan dan proses bagi ketercapaian output pendidikan,   yaitu  prestasi  sekolah terutama  prestasi  siswa yang ditandai  dengan  dimilikinya  semua  kemampuan  berupa kompetensi yang dipersyaratkan di dalam belajar.

Dengan demikian, sekolah efektif adalah sekolah yang menunjukan tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai (achievement atau observed output) dengan hasil yang diharapkan (objectives, targets, intended output) sebagaimana telah ditetapkan dimana kemampuan siswanya pada keterampilan dasar yang diukur dengan tes kemampuan dan dalam proses penyelenggaraannya terdapat dimensi manajemen, pengajaran, dan kepemimpinan.

2.3       Konsep Sekolah Efektif
           
Konsep Sekolah Efektif muncul berdasarkan hasil metariset yang dilakukan di berbagai Negara. Riset awal membuktikan hal-hal berikut:
1.      Di Amerika Serikat, Coleman (1966) melaporkan “Siswa yang berprestasi tinggi di sekolah, melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan hidupnya berhasil adalah siswa yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya tinggi. Sedangkan siswa yang prestasinya rendah, tidak mampu belajar di sekolah, drop out, tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak mempunyai motivasi belajar adalah siswa yang berasal dari keluarga yang sosial ekonominya rendah”.

2.      Di Inggris, ROBBINS (1962) melaporkan bahwa hampir semua siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berasal dari keluarga yang ayahnya mempunyai profesi yang tinggi. Hanya 2% siswa yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi berasal dari keluarga yang ayahnya tidak mempunyai kecakapan atau pendidikan yang memadai.

3.      Pusat Penelitian Pengukuran dan Evaluasi NSW, (1960-1970) Australia, menyimpulkan bahwa pendapat atau pandangan orang tua tentang nilai-nilai  pendidikan sangat berpengaruh terhadap prestasi pembelajaran anak di sekolah. Berdasarkan pendapat atau pandangan orang tua tersebut, dapat diprediksi prestasi siswa di sekolah, kapan siswa drop out, dan jenis pekerjaan apa yang akan ditekuninya.
Kesimpulannya, latar belakang keluarga merupakan faktor penting yang menentukan prestasi atau keberhasilan siswa di sekolah. Apa yang dibawa siswa ke sekolah jauh lebih penting daripada proses yang terjadi di dalam sekolah. Sekolah tidak dapat membuat perubahan yang signifikan terhadap siswa.

Pada kenyataannya, ada sekolah-sekolah yang secara konsisten menghasilkan siswa-siswa berprestasi tinggi, melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih berhasil hidupnya, apapun latar belakang keluarga siswa. Di Inggris, hasil penelitian Rutter (tahun 1979) melaporkan bahwa sekolah tersebut memiliki ciri-ciri: menekankan pada pembelajaran, guru merencanakan bersama dan bekerja sama dalam pelaksanaan pembelajaran, dan ada supervisi yang terarah dari guru senior dan kepala sekolah.

Di Amerika Serikat, penelitian Weber (1971), Austin (1978), Brookeover & Lezotte (1979), Edmonds & Frederickson (1979), Phi Delta Kappa (1980), secara meta analisis menyimpulkan bahwa sekolah tersebut mempunyai ciri: kepemimpinannya kuat, memiliki harapan yang tinggi bagi siswa dan guru, lingkungannya yang kondusif, kepala sekolah berperan sebagai “instructional leader”, kemajuan prestasi belajar siswa sering dimonitor, dan adanya dukungan pelibatan orang tua secara aktif. Melalui pemeliharaan mutu, responsif terhadap tantangan dan antisipatif terhadap perubahan yang diakibatkan dari berubahnya tatanan internal sehingga tidak menimbulkan keadaan bergejolak akan mendukung kemajuan sekolah.

Globalisasi menuntut dunia pendidikan bersinergi dengan berbagai perubahan melalui rekayasa menejemen pendidikan dengan tetap memegang citra diri bangsa. Sekolah yang hanya memelihara keadaan stabil tanpa merespon berbagai gejolak akan berhadapan dengan keadaan yang tidak menguntungkan. Sebagai peningkatan mutu pendidikan, lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi harus melakukan berbagai penataan. Salah satu upayannya adalah pembenahan dibidang menejemen. Manajemen yang baik akan menjadikan sekolah tersebut berhasil mencapai tujuan dan sasaran pendidikan.
Berdasarkan sudut pandang keberhasilan sekolah tersebut, kemudian dikenal dengan sekolah efektif. Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang harus dicapai. Sehingga sekolah dikatakan efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah.

Efektifitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran atau tujuan telah dicapai. Efektifitas sekolah terkait pula dengan kualitas. Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat misalnya nilai hasil ujian akhir, prestasi olahraga, prestasi karya tulis ilmiah dan prestasi pentas seni. Kualitas lulusan dipengaruhi oleh tahapan-tahapan kegiatan sekolah yang saling berhubungan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Efektifitas sekolah menunjukan adanya proses perekayasaan berbagai sumber dan metode yang diarahkan pada terjadinya pembelajaran di sekolah secara optimal. Efektifitas sekolah merujuk pada pemberdayaan semua komponen sekolah sebagai organisasi tempat belajar berdasarkan tugas pokok dan fungsinya masing-masing dalam struktur program dengan tujuan agar siswa belajar dan mencapai hasil yang telah ditetapkan, yaitu memiliki kompetensi.

Pada sekolah efektif, semua siswa baik siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dalam belajar, yang dapat mengembangkan diri, siswa yang memiliki kemampuan intelektualitas yang biasapun dapat mengembangkan dirinya, jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah.

Jadi, konsep sekolah efektif adalah sekolah yang mampu mengoptimalkan semua masukan dan proses bagi ketercapaian output pendidikan, yaitu prestasi sekolah terutama prestasi siswa yang ditandai dengan dimilikinya semua kemampuan berupa kompetensi yang dipersyaratkan di dalam belajar.

2.4              Ciri-ciri dan Karakteristik Sekolah Efektif

a.      Ciri-ciri Sekolah Efektif
David A. Squires, et.al. (1983) ciri-ciri sekolah efektif yaitu:
1.      adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di sekolah;
2.      memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas;
3.      mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi;
4.      siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan;
5.      siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik;
6.      adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi;
7.      siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan dalam meraih prestasi;
8.      para siswa diharapkan mempunyai tanggung jawab yang diakui secara umum, kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya.

Menurut Peter Mortimore (1991) sekolah efektif dicirikan sebagai berikut:
(1)        Sekolah memiliki visi dan misi yang jelas dan dijalankan dengan konsisten;
(2)        Lingkungan sekolah yang baik, dan adanya disiplin serta keteraturan di kalangan pelajar dan staf;
(3)        Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat;
(4)        Penghargaan bagi guru dan staf serta siswa yang berprestasi;
(5)        Pendelegasian wewenang yang jelas;
(6)        Dukungan masyarakat sekitar;
(7)        Sekolah mempunyai rancangan program yang jelas;
(8)        Sekolah mempunyai fokus sistemnya tersendiri;
(9)        Pelajar diberi tanggung jawab;
(10)      Guru menerapkan strategi-strategi pembelajaran inovatif;
(11)      Evaluasi yang berkelanjutan;
(12)      Kurikulum sekolah yang terancang dan terintegrasi satu sama lain;
(13)      Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam membantu pendidikan anak-anaknya.

b.      Karakteristik Sekolah Efektif
Shannon dan Bylsma (2005) mengidentifikasi 9 karakteristik sekolah-sekolah berpenampilan unggul (high performing schools). Untuk mewujudkannya mereka berjuang dan bekerja keras dalam waktu yang relatif lama. Kesembilan karakteristik sekolah efektif berpenampilan unggul itu meliputi:
1.      Fokus bersama dan jelas
2.      Standar dan harapan yang tinggi bagi semua siswa
3.      Kepemimpinan sekolah yang efektif
4.      Tingkat kerja sama dan komunikasi inovatif
5.      Kurikulum, pembelajaran dan evaluasi yang melampaui standar
6.      Frekuensi pemantauan terhadap belajar dan mengajar tinggi
7.      Pengembangan staf pendidik dan tenaga kependidikan yang terfokus
8.      Lingkungan yang mendukung belajar
9.      Keterlibatan yang tinggi dari keluarga dan masyarakat

Apabila dikaitkan antara semua faktor sekolah efektif tersebut, tampak nyata bahwa semua faktor tersebut dalam tulisan ini juga dikenal sebagai dimensi-dimensi mutu pendidikan. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa sekolah efektif tidak lain dan tidak bukan adalah juga sebutan untuk pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu tidak hanya prestasi siswanya mencakup keunggulan akademik, tetapi juga non-akademik seperti keberhasilan dalam olahraga dan peningkatan gairah belajar.

Karena itu, ukuran keberhasilan prestasi siswa pun bukan hanya dilihat berdasarkan hasil-hasil ujian berupa angka melainkan juga aspek-aspek non kognitif seperti kehadiran, partisipasi aktif di kelas, dan bahkan angka drop out. Dan sekolah efektif juga memerlukan dukungan orangtua dan masyarakat, yang diwadahi dalam lembaga yang dikenal dengan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Di Inggris, hasil penelitian Rutter (tahun 1979) melaporkan bahwa sekolah tersebut memiliki ciri-ciri: menekankan pada pembelajaran, guru merencanakan bersama dan bekerja sama dalam pelaksanaan pembelajaran, dan ada supervisi yang terarah dari guru senior dan kepsek di Amerika Serikat, penelitian Weber (1971), Austin (1978), Brookeover & Lezotte (1979), Edmonds & Frederickson (1979), Phi Delta Kappa (1980), secara meta analisis menyimpulkan bahwa sekolah tersebut mempunyai ciri: kepemimpinannya kuat, memiliki harapan yang tinggi bagi siswa dan guru, lingkungannya yang kondusif, kepala sekolah berperan sebagai ‘instructional leader’, kemajuan prestasi belajar siswa sering dimonitor, dan adanya dukungan pelibatan orang tua secara aktif.
Jaap Scheerens (1992) sekolah yang efektif mempunyai lima ciri penting yaitu:
1.      kepemimpinan yang kuat;
2.      penekanan pada pencapaian kemampuan dasar;
3.      adanya lingkungan yang nyaman;
4.      harapan yang tinggi pada prestasi siswa;
5.      dan penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.

Mackenzie (1983) mengidentifikasikan tiga dimensi pendidikan efektif, yaitu kepemimpinan, keefektifan dan efisiensi serta unsur pokok dan penunjang masing-masing dimensi tersebut.


Pengetahuan lain mengenai sekolah efektif adalah sebagai berikut:
1.      mampu mendemontrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria;
2.      menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya;
3.      adanya kepemimpinan yang kuat;
4.      adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan orangtua siswa;
5.      pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar.


2.5       Kepemimpinan Sekolah Efektif

Ada empat komponen strategis dalam mencapai tujuan sekolah, yaitu:
1.      Komponen Program. Program yang dimaksud yakni program yang terukur dan realistis sesuai dengan dinamika regulasi dan tuntutan zaman.
2.      Figure, yakni orang-orang dibalik program yang merupakan perancang sekaligus pelaku program.
3.      Culture, yakni etos kerja dan komitmen terhadap tugas pokok dan fungsinya.
4.      Budget, yakni berupa anggaran yang memadai dan memungkinkan tercapainya tujuan. Seperti yang dijelaskan Syafaruddin (2008: 180) bahwa sekolah efektif adalah sekolah yang skor prestasi pelajarnya tidak terlalu bervariasi dari segi status sosial-ekonomi.

Kemudian juga ada empat karakteristik sekolah efektif, yaitu:
1.      kepemimpinan kepala sekolah kuat.
2.      harapan yang tinggi terhadap prestasi pelajar.
3.      menekankan pada keterampilan dasar.
4.      keteraturan dan atmosfer terkendali.


Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat akan sangat berpengaruh pada terwujudnya sekolah yang efektif. Hal tersebut dikarenakan Kepala Sekolah merupakan salah satu figure (key person) dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan sekolah. Husaini Usman (2006: 469) berpendapat bahwa Kepala Sekolah sebagai manager di sekolah dituntut mengorganisir seluruh sumber daya sekolah menggunakan prinsip “TEAMWORK”, yang mengandung pengertian adanya rasa kebersamaan (Together), pandai merasakan (Empathy), saling membantu (Assist), saling penuh kedewasaan (Maturity), saling mematuhi (Willingness), saling teratur (Organization), saling menghormati (Respect), dan saling berbaik hati (Kindness).
Selain dari itu Suyanto (2006: 180) menjelaskan bahwa usaha meningkatkan efektivitas sekolah juga dapat dilakukan dengan mengaplikasikan empat teknik, yaitu:
1.      School review, yakni suatu proses dimana seluruh komponen sekolah bekerja sama khususnya dengan orang tua dan tenaga profesional untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas sekolah serta mutu lulusan;
2.       Benchmarking, yakni kegiatan untuk menetapkan target yang akan dicapai dalam suatu periode tertentu;
3.      Quality assurance, merupakan teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana seharusnya. Informasi yang akan dihasilkan menjadi umpan balik bagi sekolah dan memberikan jaminan bagi orang tua bahwa sekolah senantiasa memberikan pelayanan terbaik;
4.      Quality control, merupakan suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar.

Selaku pemimpin di sekolah, Kepala Sekolah dituntut dapat menjalankan semua peran tersebut secara optimal. Dalam mewujudkan sekolah yang efektif, permasalahan terberat yang harus segera ditangani adalah penyediaan fasilitas yang mendukung potensi lokal dapat berkembang optimal.

Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam sistem sekolah. Kepemimpinan merupakan faktor penggerak organisasi melalui penanganan perubahan dan manajemen yang dilakukannya sehingga keberadaan pemimpin bukan hanya sebagai symbol yang ada atau tidaknya tidak menjadi masalah tetapi keberadaannya memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi.

Terdapat tiga jenis kepemimpinan yang dipandang representative bagi penyelenggaraan sekolah efektif, yaitu:
1.      Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahan. Pemimpin adalah seseorang yang merancang pekerhaan besar serta mekanismenya, dan staf adalah seseorang yang melaksanakan tugas sesuai kemampuan dan keahliannya. Pemimpin transaksional merancang pekerjaan sedemikian rupa yang disesuaikan dengan jenis dan jenjang jabatannya dan melakukan interaksi atau hubungan mutualistis.
2.      Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional adalah suatu proses yang pada dasarnya “para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi” (Burns, 1978). Para pemimpin adalah orang yang sadar akan prinsip perkembangan organisasi dan kinerja manusia sehingga ia berupaya mengembangkan segi kepemimpinannya secara utuh melalui pemotivasian terhadap staf dan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi seperti misalnya keserakahan, kecemburuan, atau kebencian. Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki wawasan jauh ke depan dan berupaya memperbaiki dan mengembangkan organisasi bukan untuk saat ini tapi di masa yang akan datang sehingga pemimpin transformasional dikatakan sebagai pemimpin yang visioner.



3.      Kepemimpinan Visoner (Visioner Leadership)

Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin dalam menciptakan, merumuskan, mengkomunikasikan/mensosialisasikan/mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial di antara organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus diraih atau diwujudkan melalui komitmen semua personel.

Tidak ada komentar: